JEJAK SEJARAH BNKP POS PELAYANAN SEI RAMPAH YANG MENGUATKAN PERSAUDARAAN ONO NIHA di KABUPATEN SERGAI
Serdang Bedagai, OPSINEWS.COM. Sumatera Utara | Ada perjalanan yang bermula dari sesuatu yang sederhana: sebuah rumah, beberapa keluarga, sebuah kebaktian, dan kerinduan untuk kembali berkumpul sebagai saudara.
Bagi masyarakat Ono Niha (Suku Nias) yang tinggal di Sei Rampah dan sekitarnya, kerinduan itu kemudian menjelma menjadi sebuah perjalanan iman yang panjang. Dari kebaktian sederhana di rumah jemaat, lahirlah Sekola Wangandrö Sektor Sei Rampah dan sekitarnya, yang dalam perkembangannya menjadi BNKP Pos Pelayanan Sei Rampah.
Perjalanan tersebut bukan sekadar tentang berdirinya sebuah tempat pelayanan gerejawi. Di dalamnya tersimpan kisah tentang persaudaraan, pengorbanan, gotong royong, kesetiaan melayani, serta kerinduan untuk menjaga iman dan identitas kekeluargaan di tengah kehidupan masyarakat perantauan.
Berawal dari sebuah kunjungan pelayanan
Kisah itu bermula pada Minggu, 1 September 2014.
Pada hari tersebut, Pendeta Jemaat Persiapan BNKP Tebing Tinggi, Pdt. L. Telaumbanua, S.Th., melakukan kunjungan pelayanan ke kediaman Ama Kristin Zebua di Sei Rampah.
Dalam kunjungan itu, beliau didampingi sejumlah anggota Majelis Jemaat dan Badan Pengurus Majelis Jemaat (BPMJ) Persiapan BNKP Tebing Tinggi, yakni SNK F. Gea (Ama Senior Gea), SNK Fn. Hulu, S.H., M.Kn. (Ama Grace Hulu), SNK An. Telaumbanua (Ama Niel Telaumbanua), dan Ama Alvin Gulö.
Kunjungan tersebut membawa sebuah kerinduan sederhana tetapi mendalam: mengajak masyarakat Ono Niha (Suku Nias) yang bermukim di Sei Rampah dan sekitarnya untuk kembali membangun persekutuan, mempererat tali persaudaraan, serta bertumbuh bersama dalam iman kepada Tuhan.
Ajakan itu mendapat sambutan hangat.
Keluarga Ama Andi Zebua, Ama Mona Zebua, Ama Mekar Zebua, dan Ama Kristin Zebua kemudian mengambil langkah nyata. Mereka mendatangi keluarga-keluarga ono niha lainnya untuk mengajak mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan yang dijadwalkan pada 7 September 2014.
Satu demi satu keluarga mulai dihimpun. Di antaranya keluarga Ama Yanti Laowö, Ama Afrida Mendröva, Ama Jhon Laia, Ama Novulstani Waruwu, Ama Alex Sihura, Ama Lestari Halawa, Ama Ali Gulö, Ama Valentin Sitanggang, Ama Iwan Laia, Ama Eben Zalukhu, Ama Arjun Ziraluo, dan Ama Juan Gulö.
Tidak ada gedung gereja. Tidak ada fasilitas yang mewah. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting: kerinduan untuk bersekutu dan berjalan bersama dalam iman.
7 September 2014, sebuah awal yang tidak terlupakan
Pada 7 September 2014, rumah keluarga Ama Andi Zebua menjadi saksi sebuah peristiwa penting.
Untuk pertama kalinya dilaksanakan Kebaktian Sekola Wangandrö yang dipimpin Pdt. L. Telaumbanua, S.Th., dengan Mei'aro Telaumbanua, mahasiswa PKL, sebagai liturgos.
Kebaktian sederhana tersebut kemudian menjadi tonggak lahirnya Sekola Wangandrö Sektor Sei Rampah dan sekitarnya.
Seusai ibadah, para peserta tidak langsung pulang. Mereka duduk bersama dan bermusyawarah. Dalam suasana kekeluargaan, disepakati bahwa Sekola Wangandrö akan dilaksanakan secara berkesinambungan, satu kali dalam dua minggu, secara bergilir dari rumah ke rumah anggota.
Kepengurusan harian pun dibentuk:
- Ketua: Ama Mona Zebua
- Sekretaris: Ama Yanti Laowö
- Bendahara: Ama Afrida Mendröfa
Dari rumah ke rumah itulah persekutuan mulai tumbuh. Setiap pertemuan bukan hanya menjadi ruang beribadah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk saling mengenal, menguatkan, dan menjaga ikatan persaudaraan sesama Ono Niha.
Dari persekutuan menjadi keluarga besar
Persekutuan yang terus bertumbuh kemudian menggelar Perayaan Natal Perdana pada 14 Desember 2014.
Panitia dipercayakan kepada Ama Novulstani Waruwu sebagai Ketua, Ama Eben Zalukhu sebagai Sekretaris, dan Ina Kristin Zebua sebagai Bendahara.
Ada sebuah kisah kecil yang memperlihatkan semangat kebersamaan pada masa awal pelayanan tersebut.
Seusai ibadah Natal, jemaat melakukan penggalangan dana melalui lelang. Dari kegiatan itu berhasil dikumpulkan 75 kursi plastik yang kemudian digunakan untuk menunjang kegiatan ibadah Sekola Wangandrö.
Bagi sebuah persekutuan yang baru tumbuh, 75 kursi plastik bukan sekadar benda. Kursi-kursi itu menjadi simbol bahwa sedikit demi sedikit, jemaat sedang membangun rumah persekutuan mereka sendiri, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam semangat kebersamaan.
Mulai mendapat perhatian pelayanan BNKP
Perjalanan Sekola Wangandrö kemudian mendapat perhatian dari BNKP Resort 42.
Pada 22 Februari 2015, kelompok Sekola Wangandrö menerima kunjungan BPMR Resort 42 yang diwakili Ev. T. Dohare. Dalam kesempatan tersebut disampaikan renungan firman Tuhan di rumah Ketua Koordinator, Ama Mona Zebua.
Setahun setelah kebaktian perdana, tepat pada 7 September 2015, Sekola Wangandrö mengadakan ibadah syukur Hari Ulang Tahun pertama.
Kegiatan tersebut diketuai Ama Afrida Mendröfa, dengan Ina Kristin Zebua sebagai Sekretaris dan Ina Andi Zebua sebagai Bendahara.
Perjalanan itu kembali dilanjutkan pada 10 Januari 2016 melalui ibadah syukur Tahun Baru di rumah keluarga A/i. Mona Zebua. Khotbah dalam ibadah tersebut disampaikan oleh Pdt. L. Telaumbanua, S.Th.
Kerinduan memiliki pelayanan sendiri
Memasuki tahun 2016, jumlah anggota dan rasa kebersamaan semakin berkembang.
Pada 21 Januari 2016, digelar rapat bersama tokoh masyarakat Ono Niha dari Kota Tebing Tinggi dan Kabupaten Serdang Bedagai.
Dalam pertemuan tersebut muncul sebuah harapan yang lebih besar: agar Sekola Wangandrö dapat berkembang menjadi BNKP Pos Pelayanan Sei Rampah.
Harapan itu akhirnya terwujud.
Mulai 6 Maret 2016, Pos Pelayanan BNKP Sei Rampah resmi melaksanakan ibadah rutin setiap Minggu pukul 16.00 WIB di Gereja GKPI Sei Rampah, karena pada saat itu Pos Pelayanan belum memiliki gedung ibadah sendiri.
Perubahan status tersebut menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan pelayanan. Apa yang dahulu dimulai dari beberapa keluarga yang berkumpul di rumah, kini telah berkembang menjadi sebuah wadah pelayanan gerejawi yang lebih terorganisasi.
Menyiapkan generasi penerus
Pertumbuhan gereja tidak hanya berbicara tentang jumlah jemaat dan kegiatan ibadah. Ada generasi muda yang harus dibina dan dipersiapkan.
Karena itu, pada 23 April 2016, dibentuk Komisi Pemuda Pos Pelayanan BNKP Sei Rampah.
Kepengurusan awal terdiri dari:
- Ketua: Novultani Waruwu
- Sekretaris: Titin Zebua
- Bendahara: Mira Zebua
Dalam perkembangannya, dilakukan penyegaran kepengurusan dengan susunan:
- Ketua: Titin Zebua
- Sekretaris: Nila Hulu
- Bendahara: Mira Zebua
Pembentukan Komisi Pemuda menjadi bagian penting dalam mempersiapkan keberlanjutan pelayanan, sebab gereja bukan hanya berbicara tentang generasi hari ini, tetapi juga tentang iman yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Mulai memikirkan rumah ibadah
Setelah pelayanan semakin berkembang, kerinduan memiliki tempat ibadah sendiri pun mulai menguat.
Pada 29 April 2016, dilaksanakan rapat pembentukan Panitia Pembangunan dan Panitia PPHBG.
Panitia Pembangunan terdiri dari:
- Ketua: Ama Alvin Gulö
- Wakil Ketua I: Ama Juan Gulö
- Wakil Ketua II: SNK An. Telaumbanua
- Sekretaris: Ama Rian Gulö
- Wakil Sekretaris: Novultani Waruwu
- Bendahara: Ama Mona Zebua
Sementara Panitia PPHBG terdiri dari:
- Ketua: Ama Rian Gulö
- Sekretaris: Titin Zebua
- Bendahara: Ama Mekar Zebua
Pembentukan kedua panitia tersebut memperlihatkan bahwa jemaat mulai mempersiapkan langkah yang lebih jauh dalam perjalanan pelayanan mereka.
Dari perjuangan menjadi kenangan bersama
Pada 31 Juli 2016, Pos Pelayanan BNKP Sei Rampah menggelar kegiatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pembangunan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum perpisahan mahasiswa PPL yang telah menyelesaikan masa pelayanannya dan penyambutan mahasiswa PPL yang baru.
Rangkaian peristiwa sejak 2014 hingga 2016 kemudian menjadi fondasi penting bagi perjalanan BNKP Pos Pelayanan Sei Rampah.
Jika hari ini orang melihat sebuah persekutuan yang telah bertumbuh, sejarah mencatat bahwa semuanya pernah dimulai dari langkah-langkah kecil: sebuah kunjungan pelayanan, beberapa keluarga yang saling mengundang, kebaktian di rumah, kursi-kursi hasil lelang Natal, serta kesediaan banyak orang untuk melayani tanpa pamrih.
Sejarah yang hidup dalam ingatan
Dokumen sejarah yang disusun oleh pengurus pada 9 Oktober 2016 menegaskan bahwa perjalanan Pos Pelayanan BNKP Sei Rampah merupakan hasil kerja bersama seluruh jemaat dengan keyakinan bahwa semuanya terjadi di bawah penyertaan Tuhan.
Dokumen tersebut juga membuka ruang untuk penyempurnaan apabila di kemudian hari ditemukan data atau peristiwa penting lainnya yang perlu ditambahkan.
Sikap itu penting. Sebab sejarah gereja bukan hanya deretan tanggal dan nama. Sejarah adalah ingatan bersama tentang orang-orang yang pernah hadir, berdoa, bekerja, memberi, melayani, dan meletakkan dasar bagi generasi setelah mereka.
Empat puluh? Lima puluh? Bahkan seratus tahun ke depan, mungkin tidak semua nama akan selalu disebut. Namun, semangat mereka akan tetap menjadi bagian dari perjalanan gereja.
Dari Sekola Wangandrö menuju BNKP Pos Pelayanan Sei Rampah, perjalanan itu mengajarkan satu hal sederhana: sebuah persekutuan besar dapat lahir dari kerinduan kecil yang dipelihara dengan kesetiaan.
Dan di balik setiap langkahnya, ada persaudaraan Ono Niha yang terus dirawat—bukan hanya sebagai ikatan darah dan budaya, tetapi sebagai keluarga yang dipersatukan dalam iman, pelayanan, dan kasih kepada Tuhan.
Itulah jejak sejarah BNKP Pos Pelayanan Sei Rampah: bermula dari rumah sederhana, tumbuh melalui kebersamaan, dan terus berjalan sebagai kesaksian tentang iman serta persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu.
Penulis: Atumbukha Mendrova alias Ama Afrida Mendröva
Komentar Anda :