Hoaks! Putin Disebut Kritik Kebijakan Luar Negeri Prabowo, Pakar: Tidak Pernah Terjadi
TANJUNGPINANG, OPSINEWS.COM. KEPULAUAN RIAU | Narasi yang beredar di media sosial dan mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dipastikan tidak benar.
Pakar hubungan internasional sekaligus Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menyebut narasi tersebut sebagai hoaks dan disinformasi yang sengaja disebarkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Teguh mengatakan, dirinya telah menyimak secara utuh pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian forum ekonomi dan kawasan di Vladivostok, Rusia, termasuk mencermati respons Presiden Vladimir Putin terhadap pidato tersebut.
Menurut Teguh, tidak ditemukan pernyataan Putin yang bernada kritik, teguran, maupun sentimen negatif terhadap kebijakan luar negeri Indonesia.
Sebaliknya, ia menilai pertemuan bilateral dan forum pleno di Vladivostok berlangsung dalam suasana hangat serta menunjukkan adanya penghormatan dan hubungan yang konstruktif antara kedua negara.
Prabowo, yang disebut hadir sebagai tamu kehormatan utama, juga mendapatkan sambutan positif dari tuan rumah dan sejumlah pemimpin delegasi lainnya.
Kesan tersebut, kata Teguh, semakin terlihat ketika pidato Prabowo mendapat tepuk tangan dari Putin. Dalam pidatonya, Prabowo turut mengutip peribahasa Rusia, “Odin v pole ne voin”, yang bermakna bahwa seseorang tidak dapat meraih kemenangan seorang diri.
Peribahasa tersebut kemudian dipadankan Prabowo dengan filosofi gotong royong Indonesia sebagai salah satu landasan dalam membangun kerja sama global.
“Presiden Putin sama sekali tidak mengkritik kebijakan luar negeri Indonesia seperti narasi yang dikembangkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Teguh saat berada di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Senin (7/9/2026).
Konsep Jalan Raya Ekonomi Pasifik
Lebih lanjut, Teguh menilai substansi pidato Prabowo justru memperlihatkan upaya Indonesia menawarkan gagasan strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan konektivitas kawasan.
Salah satu gagasan yang disorot adalah konsep “jalan raya ekonomi” di kawasan Pasifik, yang diarahkan untuk menghubungkan potensi ekonomi Indonesia dan Rusia serta membuka ruang kerja sama yang lebih luas.
Menurut Teguh, gagasan tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Indonesia sebagai negara yang berupaya memainkan peran strategis secara mandiri, berdaulat, dan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.
Indonesia, kata dia, tidak perlu terseret ke dalam blok atau aliansi militer tertentu dalam menjalankan kepentingan nasionalnya di tengah perubahan geopolitik global.
Diplomat Rusia Bantah Narasi Viral
Untuk menguji informasi yang beredar, Teguh mengaku telah berkomunikasi langsung dengan kalangan diplomatik Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow.
Menurut Teguh, pihak diplomatik Rusia membantah adanya kritik Putin terhadap kebijakan luar negeri Indonesia sebagaimana diklaim dalam konten yang beredar di media sosial.
Ia mengatakan, informasi tersebut dinilai tidak berdasar dan tidak mencerminkan kondisi hubungan Indonesia-Rusia yang sebenarnya.
“Informasi itu sungguh palsu. Tidak pernah terjadi. Rusia dan Indonesia adalah mitra strategis,” ujar seorang diplomat senior Rusia yang dikutip Teguh.
Teguh menambahkan, Moskow tetap melihat Indonesia sebagai salah satu negara penting di tengah dinamika geopolitik global. Hubungan kedua negara, menurut dia, diarahkan untuk terus dikembangkan berdasarkan kepentingan bersama dan prinsip saling menguntungkan.
Peringatan terhadap Manipulasi Konten
Teguh juga menyoroti pola penyebaran disinformasi di media sosial yang kerap dilakukan dengan cara memotong rekaman video, mengubah takarir, hingga menghilangkan konteks pernyataan tokoh.
Menurutnya, teknik semacam itu berpotensi membentuk persepsi publik yang keliru, terlebih jika menyangkut hubungan diplomatik antara dua negara.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi politik luar negeri yang hanya bersumber dari potongan video atau unggahan media sosial tanpa melakukan verifikasi.
“Masyarakat harus kritis dan melakukan pemeriksaan silang melalui sumber resmi pemerintah, rekaman utuh, transkrip pernyataan, maupun media massa yang memiliki standar jurnalistik,” kata Teguh.
Menurutnya, perang melawan disinformasi tidak cukup dilakukan dengan bantahan, tetapi harus disertai data, konteks, dan fakta yang dapat diverifikasi.
Dengan klarifikasi tersebut, Teguh menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Rusia tetap berjalan sebagai hubungan kemitraan strategis dan tidak seperti gambaran konflik diplomatik yang beredar di media sosial.
Ia juga menilai politik luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo tetap berorientasi pada kepentingan nasional dengan mempertahankan prinsip bebas dan aktif di tengah berkembangnya tatanan geopolitik multipolar.
“Kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo tetap kokoh pada doktrin politik bebas-aktif demi kepentingan nasional di panggung dunia,” demikian Teguh. (Mendrova)
Komentar Anda :