Dari Padang untuk Penegakan Hukum Berkeadilan: Dialog Kebangsaan Firman Jaya Daeli dan Kajati Muhibuddin Menguatkan Supremasi Hukum
Padang, Sumatera Barat. OPSINEWS.COM - Di tengah dinamika penegakan hukum nasional, pertemuan antara Firman Jaya Daeli dan Muhibuddin menjadi momen penting yang sarat makna. Diskusi yang berlangsung hangat dan mendalam di ruang kerja Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Padang, Kamis (16/2/2026), tidak sekadar pertemuan biasa-melainkan refleksi komitmen bersama dalam membangun hukum yang berkeadilan dan berperikemanusiaan.
Pertemuan ini berlangsung di tengah kabar penting: Sanitiar Burhanuddin baru saja memberikan amanah baru kepada Muhibuddin sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, sebuah promosi yang menjadi pengakuan atas rekam jejak dan dedikasinya dalam dunia penegakan hukum.
Kepemimpinan yang Ditempa Pengalaman
Muhibuddin bukanlah sosok baru dalam pusaran penegakan hukum nasional. Ia telah menapaki berbagai posisi strategis, mulai dari Wakil Kajati Aceh, Pelaksana Tugas Kajati Aceh, hingga Direktur Pelanggaran HAM Berat di lingkungan Kejaksaan Agung. Pengalamannya juga terentang hingga ranah internasional sebagai Atase Hukum di Kedutaan Besar RI di Arab Saudi.
Menurut Firman Jaya Daeli-yang juga dikenal sebagai salah satu perumus berbagai undang-undang strategis di Indonesia-kepemimpinan Muhibuddin mencerminkan kematangan, integritas, serta kapasitas yang utuh dalam mengemban tugas negara.
“Penegakan hukum bukan sekadar soal aturan, tetapi tentang menghadirkan keadilan yang hidup di tengah masyarakat,” menjadi benang merah pemikiran yang mengemuka dalam dialog tersebut.
Diskursus Konstitusi dan Demokrasi di Kampus Universitas Andalas
Sebelumnya, Firman juga menggelar diskusi intelektual bersama Charles Simabura dan komunitas PUSaKO FH Unand. Diskusi yang berlangsung dalam dua sesi-pagi dan malam-ini mengangkat tema-tema mendasar: sistem konstitusi, demokrasi, supremasi hukum, hingga penegakan hak asasi manusia.
Forum tersebut turut mengingatkan publik akan kontribusi para pemikir hukum dari Unand, seperti Saldi Isra dan Feri Amsari, yang selama ini menjadi pilar penting dalam penguatan konstitusi di Indonesia.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga wadah refleksi kolektif-bahwa hukum harus terus dijaga sebagai instrumen keadilan, bukan sekadar kekuasaan.
Menyapa Peradaban di Museum Adityawarman
Di sela agenda intelektual dan kenegaraan, Firman juga menyempatkan diri mengunjungi Museum Adityawarman-sebuah ruang yang menyimpan jejak panjang peradaban Minangkabau dan Nusantara.
Di tempat ini, nilai-nilai sejarah, budaya, dan perjuangan seakan berbicara: bahwa bangsa besar tidak hanya dibangun oleh hukum yang kuat, tetapi juga oleh ingatan kolektif yang dijaga dengan penuh kesadaran.
Menyatukan Gagasan, Menguatkan Harapan
Rangkaian agenda Firman Jaya Daeli di Sumatera Barat-mulai dari dialog dengan aparat penegak hukum, akademisi, hingga komunitas masyarakat-menjadi cerminan upaya merawat ruang-ruang diskusi kebangsaan.
Lebih dari sekadar pertemuan, ini adalah ikhtiar menyatukan gagasan, memperkuat nilai, dan meneguhkan harapan: bahwa Indonesia yang berkeadilan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemimpin yang berintegritas, akademisi yang kritis, dan masyarakat yang peduli.
Di tengah tantangan zaman, pesan itu terasa semakin relevan-bahwa hukum harus tetap berpihak pada kebenaran, dan keadilan harus selalu menemukan jalannya. (Mendrova)
Komentar Anda :