Sosbud 

Paguyuban Karawitan BUMI LARAS : Butuh Sentuhan Pemerintah dan Donatur

 

SURABAYA – Ditengah gencarnya pembangunan dan hiruk pikuknya kendaraan serta padatnya padatnya penduduk kota Surabaya, masih kita jumpai sekelompok orang yang masih setia melestarikan kesenian budaya Jawa seperti karawitan, gamelan, campursari dan pewayangan. Kelompok ini diberi nama Paguyuban Karawitan Bumi Laras yang diketuai Sugito. Sugito mengatakan paguyuban ini berdiri sudah sekitar 6 tahun terhitung sejak tempatnya bekerja mengirim dirinya untuk mengisi acara di Jakarta, Namun, semangatnya untuk terus menjaga seni tradisional ini  agar lestari sebagai warisan leluhur perlu didasari keinginan yang kuat agar masih ada orang yang layak disebut sebagai orang Jawa. Yakni, orang yang tidak kehilangan identitas kebudayaannya sendiri. Masih menurutnya, Tidak perlu ramai berkoar-koar di berbagai media sosial untuk melestarikan budaya nenek moyang ini, tetapi, cukup dengan keheningan dan terus bergerak mengajarkan kesenian leluhur. “Kita tidak perlu banyak menunggu yang lain bergerak. Terpenting, kita punya niat baik untuk ikut nguri-nguri budoyo jowo, apalagi bapak saya dulu juga seorang dalang,” ungkap pria yang berprofesi sebagai tenaga keamanan di Kanwil BPN dengan tulus, Rabu (9/8) malam.

Sementara itu, Dalang Ki Kabar Panut disela latihan gladi bersihnya menilai generasi saat ini cenderung tidak mengetahui budaya leleuhurnya, namun justru banyak kita jumpai di pemberitaan turis asing berkenan mempelajari budaya jawa, tetapi malahan banyak dari orang Jawa sendiri yang acuh pada warisan budaya leluhurnya.“Kami merasakan bahwa paguyuban yang didirikan atas kesadaran untuk melestarikan budaya ini seperti hidup segan mati tak mau karena terkendala pendanaan, sampean juga lihat sendiri mas, Ruangan yang menempel di belakang tembok Kanwil BPN gayung kebonsari, itupun papan kayu yang menjadi dinding sudah banyak yang dimakan rayap. Padahal ada puluhan dalang yang berlatih disini,” tutur Ki Kabar Panut disela latihannya yang nanti tanggal 26 Agustus mendatang bakal pentas di daerah tropodo.

“Semua peralatan disini mulai dari Wayang, Gamelan bahkan sound nya, masih menggunakan indoor semua yang artinya cuma bisa dipakai hanya untuk latihan, Bahkan untuk membeli perlengkapan gamelan satu bila ada yang rusak, seluruh keluarga paguyuban dimintai urunan untuk pembelian alat gamelan yang rusak itu. Jadi apabila kami ada tanggapan, ya harus sewa dulu semua. Semoga pemerintah memberi perhatian lebih kepada para penggiat budaya seperti kami, atau para donator yang berkenan mendermakan hartanya demi melestarikan warisan kesenian peninggalan leluhur,” harapnya. (Ir)

Related posts

Leave a Comment