HUKRIM 

Pasien Perlu Pelayanan Prima

SURABAYA– Polemik yang terjadi di area  pelayanan kesehatan kembali terjadi dan masih banyak kesalahpahaman antara pasien dan petugas medis. ketidak puasan dengan pelayanan Rumah Sakit dirasakan oleh pasien menjadi PR yang berkepanjangan. pukul 21.00 pada hari Selasa (24/4/18) menjadi hari yang sangat menegangkan bagi (NC). dengan kondisi badannya panas hingga 40• celcius, istri pasien sangat kuatir, maka di bawalah ke IGD RS Suwandi guna mendapatkan pertolongan pertama. Setelah di layani (diperiksa) oleh dokter jaga, maka di lakukanlah pemeriksaan untuk mendapatkan Diagnosa terhadap pasien tersebut. Alhasil (NC) nama pasien, di nyatakan oleh dokter terserang demam berdarah. dengan trombosit mencapai angka 20 berdasarkan hasil pemeriksaan itu maka di sarankan oleh dokter jaga untuk di lakukan rawat inap. Sialnya pasien (NC) tidak mendapatkan Kamar, dengan kondisi seperti ini, dokter jaga di IGD menyarankan untuk menempati kamar yang VIP dengan tarif per hari biaya yang harus di tanggung oleh pasien sebesar Rp 600.000 dan itupun belum biaya dokter dll, jelas dokter jaga yang menangani sang pasien saat itu kepada istri (NC).

“Kamar yang kelas 1,2 dan 3 penuh bu yang ada kamar VIP, kalau mau akan kami proses” jelas dokter jaga. Pasien merasa tidak mampu, akhirnya di putuskanlah untuk di rujuk ke Rumah Sakit lain. karena merasa penanganan dan tugas dokter di IGD selesai, maka pasien di persilahkan untuk mempersiapkan meninggalkan ruangan IGD.  tanpa berpikir panjang istri pasien membawa (NC) keluar dari ruang IGD. ketika awak media rakyatjelata.com dan Opsi mendapatkan informasi bahwa pasien belum di beri obat dan belum di berikan pertolongan pertama, maka awak media ingin konfirmasi kepada dokter yang bersangkutan. karena merasa keterangan dari istri pasien sangat menarik untuk di lakukan klarifikasi. awak media ingin mengetahui tentang informasi sesungguhnya, dan apa yang di peroleh istri pasien dari dokter yang melakukan penanganan saat itu.

Namun di luar dugaan, keluarga pasien terjadi adu mulut dengan dokter jaga,  melihat ada peristiwa seperti itu secara spontan awak media melakukan tugasnya. tetapi salah satu petugas dokter ada yang berteriak kepada awak media, tanpa sebab yang jelas malah semakin marah. dokter tersebut meneriakan kata kata agar HP di matikan dan menyuruh untuk menghapus rekaman tersebut, bahkan HP dari awak media akan di rampas. “Ayo matikan HP nya, sini saya matikan, anda tidak boleh merekam. ayo matikan, matikan” sembari berteriak dokter tersebut sambil memaksa awak media untuk menghapus.

Setelah awak media merasa cukup dan menghentikan tugasnya untuk tidak melanjutkan konfirmasi, lalu awak media keluar dari ruangan IGD dan menuju ke jalan raya hendak mengambil motor di parkiran, tak lama kemudian beberapa orang Satpam menghampiri dan meminta awak media untuk masuk ke dalam ruangan kembali. hal tersebut  di lakukan dengan maksud Dokter yang telah menghalang-halangi proses peliputan tadi ingin bicara dengan awak media secara personal dan memberikan beberapa penjelasan. namun awak media menolak ajakan tersebut. ”Gak usah kuatir mas, besok saya kesini lagi, kami hanya ingin klarifikasi saja, sebenarnya kami hanya butuh sedikit penjelasan, kenapa kok pasien tidak di beri obat dan di berikan pertolongan pertama, perkara sikap dari dokter yang telah menghalang halangi kinerja saya jangan di pikirkan, kecuali kawan seprofesi dan lembaga pers yang ada di Surabaya ini mengetahui dan segera mengambil sikap, wuah itu yang saya tidak bisa membendungnya mas”, ucap awak media rakyatjelata.com sambil pergi meninggalkan tempat. Tetapi Satpam tersebut tetap memaksa untuk mengajak kembali awak media agar mau bicara dengan dokter yang bersangkutan. “Ayo mas, dokter thereca ingin bicara yang enak dengan anda, itu orangnya sudah nunggu mas (sambil menunjukan tangannya ke arah dokter yang sudah menunggu di teras IGD)” ujar Satpam sambil membujuk awak media agar mau di ajak rembugan.  (red/tim)

 

Related posts

Leave a Comment