Jendela 

Suasana Imlek di Klenteng Jagalan

SURABAYA – Pergantian tahun baru Imlek yang jatuh pada hari jumat (16/2/18) menyuguhkan kemeriahan dan suka ria warga tionghoa. Bersama keluarga mereka mendatangi tempat peribadatan yang menjadi pilihan keluarga masing-masing. Tentu dengan tujuan yang sama mereka memanjatkan doa kepada sang pencipta dengan harapan agar kehidupan setelah ini di jauhkan dari segala balak dan musibah. Dari sekian Klenteng yang ada di Surabaya salah satunya Klenteng di jln Jagalan nampak menarik untuk di kunjungi. Klenteng yang bernama Pak Kik Bio ini sangat ramai pengunjung. Penjagaan ketat yang di lakukan pihak Kepolisian juga membantu ketenangan para pengunjung untuk memanjatkan doa. Di sela riuhnya suasana bahagia, nampak para anak kecil yang ikut memadati area Klenteng guna menunggu hadiah yang di sebut Angpaw.

Warga keturunan Tionghoa yang berkunjung di klenteng itu nampak membagikan sejumlah uang. Ada pula yang menyerahkan pada Polisi agar dapat  membantu untuk membagikan kepada anak- anak kecil yang mengantri di depan Klenteng. Pemandangan itu sangat luar biasa, dengan semangat yang tinggi anak-anak itu tak mengenal lelah. Dan petugas Kepolisian dengan suka hati memberikan uang yang di amanahkan padanya. Di sisi lain pengunjung Klenteng yang berdoa bersama keluarga juga dapat memanjatkan doa bersama para wanita yang memainkan sejumlah alat musik ala tionghoa. Jenis alat musik tersebut ada yang dari kayu (simukwok), satu lagi alat musik mirip bejana yang terbuat dari logam (cung pat). Dari dua alat musik tersebut ada pelengkap untuk instrument pendukung yaitu genderang. Serta gesek mirip symbal pada drum yang bahannya terbuat dari logam pipih dan tipis.

Dari lantunan doa yang di sampaikan kepada leluhur serta dewa, para gadis yang memainkan alat musik itu sekali tempo merundukan badan sambil memberikan penghormatan. Di sertai kertas kuning yang bertuliskan huruf Cina di berikan kepada keluarga yang menginginkan bantuan kepada mereka  untuk memanjatkan doa. Jika di lihat dari usianya, Klenteng yang berdiri pada tahun 1951 ini sudah memasuki generasi ke tiga dari marga gan. Lahan Klenteng yang dulunya milik Rumah Sakit Belanda “Mardi Santoso” kini telah di gunakan untuk menjadi tempat beribadah hingga saat ini. “Sebelum menempati tempat ini kami dulu ada di dukuh, setelah Ngkong (kakek) kami Gan Wan Kiem diberi lahan ini dari pihak Rumah Sakit Mardi Santoso yang pada saat itu milik Belanda, lalu di buatlah Klenteng ini sampai sekarang. Saya sendiri generasi ke tiga dari Kakek saya” ujar Gan Kun Kie kepada awak media.  (kkh)

 

Related posts

Leave a Comment