HUKRIM 

Sidang Penipuan Tertunda Lantaràn Penasehat Hukum Belum Siap Nota Pembelaan

SURABAYA – Sidang  Perkara Penipuan dan Penggelapan atas terdakwa Soejono Candra di Pengadilan Negeri Surabaya kembali di gelar di Ruang Garuda, Pengadilan Negeri Surabaya.

Sayangnya, sidang tersebut tidak bisa dilanjutkan lantaràn kuasa hukum terdakwa belum siap atas nota pembelaan. Menurut Jaksa Cathrine  selaku Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Perak,Surabaya, menjelaskan , bahwa penundaan sidang disebabkan Kuasa Hukum terdakwa belum siap dengan nota pembelaan atau pledoi yang rencana akan dibacakan hari ini. Dari informasi yang berhasil dihimpun, pemeriksaan sidang terdakwa Kasus penipuan itu dimulai tanggal 09 Mei 2017 dengan agenda pembacaan dakwaan. Setelah gelar sidang pengajuan eksepsi tanggal 24 Mei 2017, yang diketuai Ane Rusina selaku Majelis Hakim, merubah status tahanan Rutan menjadi tahan kota atau tahanan rumah.

Penetapan pengalihan status tahanan kota itu dibacakan Ane tanggal (30/5/2017), berdasarkan  surat rekomendasi dari dokter Arifin bahwa terdakwa mengidap penyakit hipertensi. Selanjutnya, sidang pembacaan tuntutan digelar dengan jedah waktu selama 4 bulan kemudian, yakni tanggal (16/11/2017). Molornya proses persidangan Kasus penipuan di duga telah melanggar SOP Persidangan.Atas molornya persidangan, tidak di permasalahkan oleh Sigit Sutriono,  selaku, Humas PN Surabaya. “Lamanya proses persidangan itu bisa diterima atau dimaklumi apabila penundaan itu didasari dengan alasan pembenar yang sah”.
Walaupun lebih dari 6 bulan kalau memenuhi alasan hukum yang sah tidak apa, terangnya.
Ia menambahkan, jawaban sengit Anne saat di temui awak media, sebenarnya tidak boleh, kemungkinan ia (Anne) ada problem lain, pungkasnya. Seperti di beritakan pada beberapa media lainnya, Perkara penipuan dan Penggelapan tersebut berawal dari terdakwa Soejono Candra yang berniat meminjam uang pada saksi korban, Lie Soekoyo.2004 silam, dengan alasan bahwa rumahnya bakal segera disita oleh pihak Bank Artha Graha, kalau tidak segera melunasi hutang-hutangnya, namun korban tidak mau kalau hanya meminjami uang.

Akhirnya terdakwa menjual rumahnya yang beralamat di Perum Unimas blok. C, Waru Sidoarjo. kepada korban Lie Soekoyo dengan kesepakatan harga sebesar Rp.660.000.000. Adapun syarat nya, bahwa terdakwa meminta terhadap Korban untuk tidak menjual rumah tersebut kepada pihak lain sampai dengan jangka waktu dua tahun, Karena beralasan akan dibeli kembali oleh terdakwa, atas alasan tersebut korban merasa kasihan lantas mengiyakan.

Hingga batas waktu yang dijanjikan. terdakwa tak kunjung membeli rumah yang sudah ia jual tersebut, pada tanggal 29 November 2006 korban mendatangi terdakwa untuk mengesahkan Jual beli Karena tidak bisa menepati janji – janji untuk kembali membeli rumah yang pernah ia jual tersebut. Secara tiba-tiba timbullah Akte pernyataan Jual beli Nomer 9, tahun 2006 yang disertai akte kuasa jual Nomer.10, tahun 2006, antara Soejono Candra kepada Lie Soekoyo dihadapan Notaris Sugiharto, tak hanya itu, untuk mengosongkan objek telah tertuang dalam akte Nomor.11, tahun 2006, bahwa Soejono Candra juga telah menerima uang sebesar Rp.25.000.000, untuk biaya pengosongan rumah. Sampai batas waktu yang dijanjikan yakni, (30/1 1/ 2006) terdakwa tidak segera Mengosongkan rumah sehingga korban merasa dirugikan sebesar Rp. 685.000.000. Korban akhirnya, melaporkan perkara ini ke Polrestabes Surabaya, bahkan sampai kasus ini bergulir dipersidangan. Korban masih belum bisa menguasai akan objek rumah yang dalam pandangan hukum sudah sah ia beli. Terpisah, istri terdakwa yakni Yen Jet Ha, Mengklaim kalau suaminya tersebut tidak pernah menjual.  (Slamet)

Related posts

Leave a Comment