HUKRIM 

Penghuni Lapas Madiun, Kendalikan Peredaran Ectasy.

SURABAYA – Kerap kalinya peredaran narkoba  jenis Ectasy di bawah kendali penghuni lapas (khususnya lapas Madiun), yang melibatkan beberapa perantara, di antaranya, Yudi Prasetya dan istrinya Prita Andriana Purnama Sari serta Hendry Putranto alias Panjul, akhirnya di hentikan dengan melakukan penangkapan oleh pihak BNNP, Jatim, dan kini naik ke meja hijau guna di adili atas perbuatannya. Pada Rabu,(27/9/2017), di ruang Garuda II, Pengadilan Negeri,Surabaya, menggelar sidang agenda dakwaan, yang melibatkan Hendry Putranto sebagai terdakwa.Sedangkan, Yudi Prasetya dan istrinya Prita Andriana Purnama Sari dihadirkan sebagai saksi juga di tuntut dalam Pengadilan Negeri,Surabaya, dalam berkas terpisah. Jaksa Penuntut Umum, Kejari,Surabaya, melalui, Theresia Widowati,SH., dan Rahmawati Utami,SH. mendakwa, Hendry Putranto, di nyatakan melakukan pemufakatan jahat tanpa hak dengan melakukan perbuatan melawan hukum berupa menawarkan atau menjual narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman (ectasy 100 butir) dengan berat 5 gram.
Berdasarkan, keterangan saksi dari BNNP Jatim, yang di hadirkan dalam persidangan, menerangkan, pihak BNNP,Jatim, mengembangkan hasil laporan dari masyarakat terkait, adanya peredaran narkotika di wilayah Tulungagung. Melalui pengembangan informasi dan penyelidikan di dapat Hendry Putranto akan melakukan transaksi berupa pengambilan barang narkotika jenis Ectasy di wilayah Ngunut, Tulungagung.Dari penangkapan terdakwa, telah di dapati narkotika jenis ecyasy sebanyak 100 butir dalam saku celana Hendry Putranto. Tak puas sampai di situ saja, pihak BNNP,Jatim, mengembangkan dengan melakukan pendalaman yang menghasilkan tersangka baru yaitu, Yudi Prasetya dan istri sebagai penghubung dengan penghuni lapas Madiun, yang bernama Anam ( Bandar narkotika), sebagai pengendali.

Adapun saksi lain, yang juga terdakwa dalam berkas terpisah, Yudi Prasetya, memberikan keterangan, telah mengakui Hendry Putranto sebagai teman serta berterus terang menyuruh Hendry Putranto (terdakwa) guna mengirimkan barang narkotika (ectasy 100 butir) ke pada pemesan yang ada di Blitar. Dengan harapan mendapatkan fee,terdakwa sebelum tiba mengirimkan barang sampai ke pemesan keburu di tangkap pihak BNNP,Jatim. Di hadapan Majelis Hakim, yang di ketuai oleh, Dede Suryaman,SH., Yudi Prasetya (saksi), dari tiap transaksi mendapatakan fee sebesar RP.2.000.000, dari Aman salah satu penghuni lapas Madiun. Sedangkan saksi lainya, Prita Andriana Purnama Sari ( istri Yudi Prasetya),
kerap kali memberikan keterangan yang berbelit-belit hingga, di persidangan tampak Majelis Hakim kerap mengingatkan Prita Andriana Purnama Sari (saksi),agar berterus terang dalam memberikan kesaksiannya.

Hal-hal yang di sampaikan Majelis Hakim kepada Prita Andriana, berupa ketidak sesuaian pernyataan saksi di peradilan dengan keterangan dalam BAP dari BNN, Jatim. Usai ketiganya (petugas BNN,Jatim, Yudi Prasetya dan istri) memberikan kesaksian, terdakwa di beri kesempatan oleh Majelis Hakim untuk menyampaikan keberatan atau menerima keterangan saksi-saksi. Dalam hal perkara ini, terdakwa, yang di dampingi oleh zendy.SH., dari lembaga bantuan hukum LACAK, mengatakan, kebenaran dari keterangan saksi- saksi, serta Jaksa Penuntut Umum,Kejari,Surabaya, membacakan dakwa annya, terdakwa di ancam pidana dalam pasal 114 ayat (2) juncto pasal 132 ayat (1) sesuai Undang-Undang RI.no.35, tentang narkotika.  (MET)

 

Related posts

Leave a Comment