HUKRIM 

2 Saksi yang Dihadirkan JPU, Kerap Menjawab Lupa dan Tidak Siap Membawa Bukti Bukti Guna di Beberkan Ke Persidangan

Foto saksi : Indra Sidharta

SURABAYA – Tudingan penyerobotan lahan yang di sangkakan terhadap Wardoyo sebagai terdakwa atas laporan Budi Susanto dan Indra Shidarta kini memasuki agenda kesaksian. Sidang Agenda saksi di ruang Garuda I, Pengadilan Negeri Surabaya, pada Rabu (31/10/2018), tampak Fathol selaku Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Surabaya,menghadirkan 2 orang saksi yaitu, Budi Susanto dan Indra Shidarta. Budi Susanto mengawali sampaikan keterangan di muka persidangan berupa, ia pernah dimintai keterangan di kepolisian terkait lahan tanah miliknya di serobot oleh terdakwa namun, sembari JPU menunjuk ke terdakwa secara spontan saksi mengaku tidak mengenal terdakwa. “Saya tidak kenal dengan terdakwa,” tegasnya. Saksi mengatakan, “Ia tidak mengetahui nomor berapa lahan miliknya yang di serobot terdakwa. Saksi hanya ketahui lahan seluas 19.500 meter persegi di Medokan Semampir Timur DAM, Surabaya, seluas 19.500 meter persegi miliknya di tempati orang lain,” beber saksi.
Di hadapan Majelis Hakim, saksi mengaku, tanah miliknya di beli dari PT SAC Nusantara dengan harga Rp.59 Milyard pada 1 April 2015 masih berupa tanah kosong dengan bukti copy surat Letter C dengan nomor 4128 dan saat ini, lahan tersebut masih dalam proses menuju sertifikat. “Saya membeli dari PT SAC Nusantara langsung satu lokasi seluas 19.500 meter persegi dan satu surat Persil nomor 45 B II kemudian ia memberi kuasa kepada Indra Shidarta untuk menjaga, melaporkan, melakukan somasi, mengawasi dan ternyata lahannya ada yang menempati ,” kata saksi. Ia menambahkan, lahan yang di beli berupa lahan kosong kini di tempati 70 kepala keluarga (KK) dan setelah di beri ganti rugi sebesar Rp.25 juta sebanyak 28 (KK) kini tinggal 42 (KK), terangnya. “Kita mau membayar ganti rugi kepada warga namun warga sebanyak 42 (KK) menolak ,” paparnya.
Sedangkan, Penasehat Hukum terdakwa, dalam persidangan merasa aneh, ketika saksi diminta menjelaskan lokasi, tanggal dan dengan siapa saksi membeli lahan kepada PT SAC Nusantara. “Lupa saya gak tahu dimana,” kata saksi. Salah satu Hakim Anggota juga tampak sedikit kesal atas pernyataan saksi di muka persidangan, yang lupa melakukan transaksi dimana,tanggal berapa juga berserta siapa saat pembelian lahan seluas 19.500 meter persegi. Saksi kembali kebingungan guna menjawab pertanyaan Penasehat Hukum terdakwa. “Saya tidak tahu dengan siapa selaku pihak penjual yang hadir saat transaksi. Saksi hanya ingat melakukan tanda tangan di hadapan notaris namun, ia lupa siapa nama notarisnya,”terangnya.
Keterangan lain, yang di sampaikan saksi, berupa, “usai melakukan transaksi pembelian tanah ia tidak tahu batas mana saja lahan yang dimilikinya,” ujarnya. Saksi selama ini, menyerahkan semuanya kepada Indra Shidarta termasuk laporan bahwa tanah miliknya di duduki oleh terdakwa namun, saksi juga tidak tahu obyek mana yang di tempati terdakwa. Di ketahui saksi terdakwa menempati lahan miliknya dari dokumen foto. Kejanggalan lain, saksi mengelak telah mengalami kerugian 15 Milyard padahal dalam keterangannya di BAP Kepolisian saksi mengalami kerugian 15 Milyard. Dalam hal ini, lagi lagi Hakim anggota tampak kesal dengan pernyataan saksi. “Nyerocos melulu, dalam BAP keterangan saksi mengalami kerugian 15 Milyard menghitungnya dari mana?,” tanya Hakim anggota.
Keterangan lain, sejak membeli tanah tahun 2015 ia sudah melakukan pembayaran pajak namun, saksi tidak bisa beberkan bukti pembayaran pajak saat di persidangan. “Ada pembayaran pajak saya lupa membawa,” ucapnya. Kerapnya saksi lupa dalam menyampaikan keterangan terkait berapa warga yang di seret ke muka persidangan membuat Hakim Anggota menghardik dan mengingatkan saksi di muka persidangan. “Kalau tidak ingat saksi jangan nyerocos. Tinggal bilang tidak ingat saja,” jelasnya. Perkara sengketa tanah dengan obyek sisa sempadan sungai saksi kerap lupa berapa warga yang sudah di ajukan ke muka persidangan dan kejelasan dalam bentuk apa bukti yang di beberkan saksi.
Kalau tidak ingat saksi jangan nyerocos. Tinggal bilang tidak ingat saja,” jelasnya. Perkara sengketa tanah dengan obyek sisa sempadan sungai saksi kerap lupa berapa warga yang sudah di ajukan ke muka persidangan dan kejelasan dalam bentuk apa bukti yang di beberkan saksi pun juga lupa. Di kesempatan yang di berikan Majelis Hakim kepada terdakwa guna menanggapi keterangan saksi. Terdakwa mengatakan, ” bahwa tidak pernah tahu , kenal atau bertemu dengan saksi bila mengacu pada peraturan PU Pengairan no 70 tahun 1996 tentang sempadan sungai maka keterangan saksi semuanya tidak benar, “ucap terdakwa.
Saksi selanjutnya, Indra Sidharta menyampaikan keterangannya berupa, “mengakui telah mendapatkan kuasa dari Budi Susanto guna mengurusi tanah. Adapun bukti yang di beberkan saksi petok D lalu berubah Letter C dengan seluas 19.500 meter persegi di ajukan menjadi sertifikat. Sedangkan yang sudah bersertifikat sementara seluas 8000 meter persegi dengan nomor 03369 ,” papar saksi. Saksi menambahkan, ” sisa tanah yang belum bisa bersertifikat berupa peta bidang karena waktu pengukuran terkena sisa sempadan sungai sehingga sisa tanah yang dekat sungai milik Budi Susanto belum di setujui menjadi sertifikat,” imbuhnya.
Tanah seluas 19.500 meter persegi di beli dari PT.SAC Nusantara dengan lokasi transaksi di Surabaya di hadapan notaris antara penjual (PT SAC Nusantara) dengan Budi Susanto dan saksi tidak ikut mendampingi saat transaksi. Bisa di bayangkan, kejanggalan keterangan kedua saksi yang di hadirkan JPU antara keterangan Budi Susanto yang tidak tahu atau lupa melakukan transaksi langsung dengan notaris siapa sedangkan, Indra Sidharta yang tidak turut mendampingi justru lebih mengetahui nama notaris dan letak lokasi transaksi adalah hal yang cukup menggelikan. Keterangan lain yang di sampaikan saksi yaitu, saksi pernah melakukan somasi terhadap terdakwa namun, tidak ada jawaban sedangkan, saksi dengar-dengar pemilik membeli tanah seharga 5,9 Milyard. Terkait somasi yang dilayangkan saksi dalam keterangan BAP kepolisian oleh Penasehat Hukum terdakwa telah di tunjukkan secara bersama dengan saksi di meja Majelis Hakim namun, saksi mengelak bahwa somasi yang ada dalam keterangan BAP Kepolisian bukan dirinya yang membuat.
” Ini surat somasi bukan saya yang buat ,” ucapnya. Lagi-lagi salah satu Hakim Anggota sempat binggung mengapa surat somasi ada dua maka di persidangan selanjutnya, saksi di minta menunjukkan aslinya. Saksi yang selaku pejabat pembuat akta tanah (PPAT) dalam kalusul yang di kuasakan Budi Susanto terhadapnya berupa, ” mengurusi , melindungi tanah milik Budi Susanto dari orang orang yang tidak bertanggung jawab serta melakukan pemanelan (pemagaran), ” terangnya. Saksi menambahkan, ” tidak mengetahui bahwa tanah yang di tempati terdakwa maupun warga ada patok sebagai batas area milik PU,” ungkapnya di meja Majelis Hakim.
Di samping itu, saksi juga mengatakan, tidak pernah ada surat dari Dinas PU yang tertuju ke Budi Susanto ataupun terhadap dirinya. “Saksi pernah mendatangi Sungai Berantas dengan di benarkan Sungai Berantas bahwa, obyek tanah adalah milik Indra Shidarta akan tetapi peruntukannya tidak boleh di dirikan bangunan di atas obyek tanah tersebut, namun bisa di buat Jogging Track ,” papar saksi. Di singgung terkait kerugian 15 Milyard saksi tidak mampu menerangkan secara rinci padahal kesaksian sebelumnya Budi Susanto mengaku lupa dan semua urusan di serahkan saksi (Indra Shidarta ). “Saya kurang paham, “ujarnya singkat. Di keterangan lainnya, saksi menjelaskan tanah yang sudah bersertifikat sudah berbayar pajak. ” Hingga sekarang sudah berbayar pajak,” jelasnya. (Tim)

Related posts

Leave a Comment