OPSI JATIM 

Pekerjaan Infrastruktur Di Jalan Kertajaya, Surabaya, Timbulkan Polusi Dan Kemacetan

SURABAYA – Perbaikan di bidang infrastruktur kota Surabaya pada tiap tahunnya,tentu menelan anggaran APBD yang tidak sedikit.Sayangnya, pekerjaan infrastruktur  yang dilakukan pemenang lelang tidak di barengi sebuah profesionalme dalam bekerja melainkan hanya sekedar mengugurkan kewajiban.
Dari pantauan di lapangan, pekerjaan infrastruktur di jalan Kertajaya, Surabaya, menyiratkan kesan pekerjaan tersebut,tidak mematuhi kewajibannya ( tiap-tiap item pekerjaan  di abaikan)seperti yang tertuang dalam dokumen kontrak yang sudah menjadi kesepakatan kedua belah pihak serta mengabaikan dampak negatif dari pekerjaan yang di laksanakan. Dampak negatifnya, pekerjaan tersebut,tidak memperhitungkan keselamatan pengguna jalan juga polusi (akibat pekerjaan pengangkutan tanah bekas galian) dari pekerjaan paket saluran type A ( sak.median  d jalan Kertajaya),Surabaya, tampak tercecer tanah bekas galian di pinggir jalan sehingga menimbulkan polusi debu yang berterbangan, saat para pengguna jalan melintasi area tersebut, juga tidak terpasangnya rambu-rambu peringatan atau pengaman bagi pengguna jalan.

Secara otomatis para pengguna jalan maupun warga yang bermukim di beri sajian polusi selama 120 hari ( bila mengacu jadwal pekerjaan yang sudah di tentukan oleh PPK ). Dalam hal ini,polusi yang diakibatkan dari pekerjaan sangat menganggu kesehatan (alat pernafasan) bagi pengguna jalan maupun warga  yang bermukim di sekitar lokasi pekerjaan.
Dampak yang lain, usai pemasangan box culvert di tiap-tiap sisinya menyisakan lubang-lubang yang mengangga dan lebih parahnya lagi, pelaksana pekerjaan tidak memasang rambu-rambu guna mengingatkan para pengguna jalan agar lebih berhati hati.                                      Tampak di lapangan,para pengguna terlihat menjalankan kendaraan sangat pelan yang memicu kemacetan karena bertumpuknya volume pengendara saat jam pulang kerja.
Secara harfiahnya, dampak dari pekerjaan infrastruktur yang menyerap anggaran tidak sedikit, tentunya tidak di imbangi sebuah kajian-kajian sisi positif maupun negatif guna meminimalisir dampak dari pekerjaan infrastruktur.

Hingga berita ini di unggah, pihak PU.Bina Marga,Surabaya, melalui Syamsul Hariadi belum bisa di konfirmasi begitupun juga Kadis PU,Bina Marga,Surabaya, Ernawati. Tiap-tiap tahunnya,pekerjaan infrastruktur selalu tidak adanya kajian-kajian guna menanggulangi dampak dari pekerjaan infrastruktur yang di laksanakan.
‌Dugaan secara tidak langsung, peran konsultan yang terlibat sangat minim (sia-sia) bahkan, bisa di artikan hanya memyerap anggaran dan lebih menguntungkan pemenang lelang dengan melaksanakan pekerjaan tanpa memikirkan dampak sosial atau memang adanya unsur sebuah jalinan peradaban satu sama yang lain (pemenang lelang,konsultan dan PPK).
‌Padahal peran dari ketiga unsur (pemenang lelang, konsultan dan PPK) adalah sangat berarti dalam tiap-tiap pelaksanaan sebuah pekerjaan infrastruktur guna menghasilkan pekerjaan yang sama sama saling menguntuntungkan,terlebih khususnya, terhadap masyarakat.    (MET).

 

Related posts

Leave a Comment