HUKRIM 

Penangkapan Ade (Wartawan beritarakyat) Pesanan

SURABAYA – Ketua DPD KWRI (Komite Wartawan Reformasi Indonesia) Jatim Wardoyo, SH menyayangkan atas penangkapan wartawan beritarakyat.co.id, Slamet Maulana atau Ade oleh Polresta Sidoarjo beberapa waktu lalu. Ade ditangkap 12 Mei 2018, terkait pemberitaan Cafe Karaoke X2 Sidoarjo yang diduga memperbolehkan pengunjung melakukan pornoaksi dan kuat dugaan tidak punya ijin Cafe Karaoke. “Dengan adanya kejadian ini, sangat kuat dugaan bahwa penangkapan ini pesanan serta kriminalisasi terhadap pers masih terus terjadi. Kali ini menimpa saudara kita Ade wartawan Beritarakyat.co.id, media online terbitan Surabaya, Jawa Timur,” jelasnya, Jumat (22/6/2018). Laporan kasus yang menjerat Ade ini bermula dari tulisannnya di beritarakyat.co.id soal adanya wanita penghibur di karaoke keluarga X-2. Pengelola tak suka lalu melaporkannya ke Polisi. Tulisan yang dimuat antara lain adanya wanita penghibur yang bisa diajak mesum di dalam kamar tempat karaoke
“Ade diduga ditangkap tanpa melalui proses penyelidikan hanya karena laporan pihak pengusaha hiburan karaoke, dan tidak sesuai SOP Polri,” tambah Wardoyo. Wardoyo juga menjelaskan, isteri korban sudah berkirim surat kepada Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk meminta perlindungan hukum, namun belum ditanggapi oleh Kapolri. “Dalam surat perihal Pengaduan dan Mohon Perlindungan Hukum tersebut, istri Ade memaparkan kronologi peristiwa bahwa suaminya ditangkap atas laporan Arief Wiryawanto manager X-2 Family Karaoke pada 15 Januari 2018 lalu. Awalnya, Slamet Maulana mendapat informasi soal adanya wanita penghibur di karaoke keluarga tersebut,” ujarnya
Sementara itu, Istri korban Devi mengatakan suaminya sudah melakukan cross check berita dan bertemu dengan manager karaoke. Selanjutnya Ade menulis berita sejak bulan Desember 2017 hingga Januari 2018 tentang data yang didapatnya termasuk sanggahan pihak X-2. “Suami saya mempunyai bukti foto dan video adegan pornografi yang dilakukan oleh wanita penghibur (purel) yang beroperasi di karoke itu,” jelas Devi. Tidak terima atas tulisan suaminya, manager X-2 mengajak Ade bertemu dengan tujuan agar berita yang sudah naik dicabut sekaligus menghentikan membuat berita soal X-2. Saat itu X-2 diwakili oleh pengacara bernama Prayit. Permintaan X-2 ditolak oleh Ade.
Karena ajakan ditolak, akhirnya X-2 membuat laporan Polisi No.LBP/24/1/2018/JATIM/RES.SD tanggal 15 Januari 2018. “Aneh, Suami saya baru ditangkap tanggal 12 Mei 2018 tanpa penyelidikan terlebih dahulu,” ujar Devi. Menurut Devi, seharusnya sebelum suaminya ditangkap dilakuan penyelidikan, misalnya diperiksa sebagai saksi, kemudian dilakukan gelar perkara baru ditetapkan seseorang sebagai tersangka atau tidak berdasarkan bukti-bukti. Tanpa melalui prosedur tersebut Ade ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan melanggar pasal 45 ayat 3 dan 4 jo pasal 27 ayat 3 dan ayat 4 UURI No. 19 tagun 2016 tentang perubahan atas UURI No. 11 tahun 2008 Tentang ITE. “Seharusnya pekerjaan suami saya sebagai wartawan dilindungi oleh UU Pokok Pers No. 40 tahun 1999, Kode Etik pers serta nota kesepahaman antara Kapolri dan dewan Pers No. 2/DP/MOU/II/2017 No. B/15/II/ tanggal 9 Pebruari 2017 tentang koordinasi dalam perlindungan Kemerdekaan Pers dan Penegakan hukum terkait penyalagunaan profesi wartawan,” pungkas Devi. (tim)

Related posts

Leave a Comment