Jendela 

Bahagia Tidak Perlu Kaya

SURABAYA – Memiliki tempat tinggal yang nyaman dan layak merupakan impian setiap pasangan hidup dalam berumah tangga. Tak sama ubahnya dengan keluarga Pardi pria asal Lamongan ini hidup bersama istri dan anaknya yang masih berumur 2 tahun, harus menjalani kerasnya hidup di Ibu Kota Jawa TimurSurabaya (Sabtu 31-3-2018). Saat malam menjelang pria yang sudah mulai berubah warna rambutnya ini mulai menggelar selembar terpal di tepi sungai  sebuah pinggir jalan kawasan Pasar Atom berukuran 1 meter yang di topang sebuah kayu. Guna di jadikanya sebuah tenda diperuntukkan buat istirahat dan bernaung menyelimuti dinginya angin  malam bersama istri dan anaknya.

Anak yang masih berusia 2 tahun ini harus rela bersenda gurau diantara bisingnya kendaraan yang lewat. Tak peduli orang mau berkata apa, mau bagaimana lagi. Kondisi seperti ini telah dilewatinya bertahun-tahun. Tanpa berpikir akan bahaya yang akan menyapanya sewaktu-waktu. Keluarga kecil ini bahagia menjalani hidupnya dengan suka cita. Di saat sang fajar mulai menyingsing Pardi segera berkemas guna segera menggulung tendanya untuk menghindari cakupan dari petugas.

“Saya kalo siang bekerja, istri dan anak saya juga ikut mencari nafkah dengan memunggut sampah yang bisa dijual. Saya sendiri kalo siang mbecak mas” tutur Pardi ke media opsinews.com. Tak hanya itu, Pardi juga menyampaikan, “Saya tidur beralas koran bersama istri sudah biasa. Kan kita hanya butuh istirahat semalam, esok paginya saya bekerja seperti biasa”, imbuhnya. Dikala saat turun hujan pun keluarga Pardi ini serasa tak menghiraukan lagi. Mereka serasa sangat bahagia menjalani kehidupanya ini. Bahagia tidak perlu menunggu kaya, karena saat kaya belum tentu bahagia. Bahagia tidak hanya di miliki oleh orang kaya, karena keluarga pemulungpun juga bisa bahagia. maka, bahagia sejatinya bukan soal berapa uangnya tapi, bagaimana hatinya dan cara menikmatinya.  (kkh)

 

Related posts

Leave a Comment