OPSI JATIM 

139 Lapak Kayu Liar Ditertibkan untuk Normalisasi Saluran Air

SURABAYA – 139 pedagang kayu di Jalan Dupak ditertibkan. Lapak mereka berdiri di atas saluran air. Saluran air tersebut hendak dinormalisasi. “Hari ini memang deadline kami untuk menormalisasikan fungsi saluran milik pemerintah. Saluran air ini yang menghubungkan ke beberapa saluran di Surabaya salah satunya di daerah Bubutan, Semarang, dan Kranggan,” ujar Kepala Satpol PP Irvan Widyanto saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (18/7). Proses normalisasi lahan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja berjalan dengan lancar. Para pedagang sendiri yang membongkar dan memilih kayu-kayu mereka yang masih layak jual.

“Untungnya respons mereka baik, mengerti, dan secara sukarela membersihkan barang-barang yang dimiliki sehingga memudahkan kami untuk bekerja. Tapi kalau mereka membutuhkan batuan seperti alat berat atau tenaga yang lainnya kami juga bisa bantu. Bisa dilihat itu mereka sambil memilih barang-barangnya mana saja yang masih bisa dijual,” kata Irvan seraya menunjuk pedagang yang sedang mengambil kayu miliknya.
Irvan mengatakan, sudah sejak setahun yang lalu dilakukan sosialisasi kepada pedagang kayu di Jalan Dupak. Di tanggal 16 Juli kemarin ditunda penertiban karena masih menunggu proses pemindahan sukarela dari pedagang setempat. Sebanyak 600 personel Satpol PP dikerahkan untuk proses penertiban ini. Proses ini mengikutsertakan Dinas Bina Marga, Dinas PU, Linmas, Dinas Perhubungan, dan Polrestabes Surabaya. Ratusan pedagang kayu ini nantinya untuk sementara dipindahkan ke lahan Gudang Satpol PP di Tanjungsari. Namun pedagang menolak untuk dipindahkan kesana karena kurangnya pelanggan. Pemkot Surabaya sendiri sudah menyiapkan tempat yang berada di kawasan Ngagel namun tempat itu belum selesai dibuat. Itu salah satu alasan juga yang membuat para pedagang enggan berpindah ke Tanjungsari.
“Kami pengennya langsung pindah ke Ngagel, katanya sudah disiapkan tapi belum jadi tempatnya. Kalo di Tanjungsari itu nggak ada yang beli nanti dan kami masih belum bisa berjualan juga soalnya itu tempat buat penyimpanan sementara aja. Coba para petugas ini bisa sabar sedikit,” ujar Sahlan, salah satu pedagang. Ketakutan yang lain terlihat dari ungkapan beberapa pedagang. Jika tidak segera berjualan dan masih menunggu proses pembangunan lahan di Ngagel, mau menghidupi keluarga dengan apa serta takutnya anak akan putus sekolah. Karena hampir 30 tahun mereka telah berjualan di situ.

“Saya berjualan sudah dari tahun 1983, ya kurang lebih 34 tahun di sini. Penghasilan saya semuanya dari sini, biaya untuk sekolah anak, makan, hidup semuanya dari sini. Ini peninggalan orang tua saya sekaligus wasiat kepada saya. Kalau dibongkar nanti saya mau kasih makan apa ke anak-anak saya belum lagi anak saya yang udah kuliah, biayanya itu lho mahal,” cerita Wisnari (40), pedagang kayu asal Madura yang merantau ke Surabaya untuk mencari nafkah.

Sahlan menyayangkan kepada pemerintah mengapa lahan ini tidak bisa ia gunakan lagi untuk berjualan, “Orang atas itu seperti tidak berfikir atau tidak lihat ke kita usahanya seperti apa selama ini untuk membiayai kehidupan keluarga saya, ya memang katanya sudah disiapkan tempat tapi sama saja kalau belum selesai. Kita ini butuhnya cuma bukti aja benar nggak tempatnya itu ada. Nanti udah nunggu setahun atau dua tahun anak-anak sama istri saya mau di gimanain,” tandasnya. (tim)

Related posts

Leave a Comment