Puncak Hari Pers Nasional 2018, Jokowi Jadi Wartawan, ‘Presiden 5 Menit’ Bawa Pulang Sepeda

PADANG – Pemimpin Redaksi ragamnews.com, Yousri Nur Raja Agam, didapuk menjadi “Presiden” oleh Jokowi saat puncak peringahan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 yang dipusatkan di Danau Cimpago, Kota Padang, Sumbar, Jumat (9/2/2018). Bahkan bersamaan dengan itu, Presiden Jokowi juga menjadi wartawan dadakan ketika Yousri Nur Raja Agam tersebut, didaulat menjadi Presiden. Peringatan puncak HPN 2018 juga dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Kapolri, Panglima, dan sejumlah pejabat elit negara. Disela-sela menjadi Presiden dadakan lebih kurang 5 menit lamanya, pemimpin media online di Surabaya yang sudah malang melintang bergelut di dunia kewartawanan lebih kurang selama 40 tahun itu, juga diberikan hadiah sepeda oleh Jokowi.

Saat ditemui usai acara puncak HPN, pria kelahiran Bengkalis 20 Oktober 1950 silam itu kepada tribunpadang.com, mengaku tak menyangka ditunjuk dan diperintahkan Presiden Jokowi untuk naik ke atas panggung HPN. “Tadi kan banyak yang nunjuk tangan, tapi kok bisa ya mata beliau mengarah ke saya. Kemudian saya didaulat pula jadi Presiden dadakan, dan Pak Presiden juga siap jadi wartawan dadakan. Jadi kalau saya jadi Persiden, tentu saya siap menghadapi wartawan,” katanya berseloroh. Menyikapi HPN 2018, pria asal Padang Lua, Kabupaten Agam, Sumbar itu menyebut, saat ini tengah terjadi kebebasan Pers yang luar biasa. Siapa saja bisa jadi wartawan. Bahkan banyak pemimpin redaksi dari pada wartawannya, dan kebebesan ini tidak terkontrol.

Menurutnya, kenyataan ni juga disebabkan karena Dewan Pers ini tidak ada kaki tangan di daerah, karena hanya ada di Jakarta, dan tentunya apakah Dewan Pers bisa melayani insan Pers di daerah?. “Idealnya harus ada kaki tangan atau perwakilan, atau memberikan kuasa di daerah atau kuasa ke organisasi Pers yang ada di daerah, karena Dewan Pers ini kan perwakilan media massa. Minimal organisasi Pers di daerah kan bisa dijadikan kaki tangan Dewan Pers,” bebernya. Dia pun juga membandingkan wartawan dulu dan sekarang. Selama 40 tahun jadi wartawan, katanya, terdapat jauh perbedaan antara wartawan dulu dengan wartawan jaman now. Kalau dulu, kata dia, sebelum jadi wartawan ada namanya pendidikan pers atau coaching pers. Dulu orang jadi wartawan itu berpikir dan sangat selektif sekali, karena media itu terdaftar dan jumlahnya sedikit.

“Orang dulu itu jadi wartawan melamar. Melamar bukan karena pekerjaan tapi profesi. Kalau sekarang jadi wartawan itu pekerjaan. Bahkan wartawan sekarang, saya lihat dia itu mengetahui kegiatan jurnalistik dengan ortodidak melalui media-media,” ujarnya. Wartawan sekarang, lanjutnya, merasa pintar dari mbah google. Padahal pengetahuannya hanya sekedar. Sekarang itu jadi wartawan hanya cari kerja, cari duit. Kalau profesi itu, ada nilai tawarnya.

“Saya ini bolak-balik pindah media, karena direkrut atau ditawarkan. Itu yang profesional. Saya sudah ada sekitar 10 media, saya ditawarkan. Di antaranya, jurnalibin (groub Merdeka), Radar Kota, Pelita Kota dan sekarang Majalah Kirana,” bebernya.

“Saya juga punya media online ragamnews.com. Saya juga punya koran Door, dan saya juga ikut tergabung di media Berita Lima,” sambung Yousri Nur Raja Agam. Ia pun juga mengisahkan bagaimana dia bisa jadi wartawan, padahal latar belakangnya adalah seorang sarjana muda jurusan tekstil. Dulu di tahun 70-an, katanya, dia bergabung di organisasi jurnalistik saat masih menjadi mahasiswa di Akademi Tekstil Bandung. Setelah tamat kuliah, dia pun bekerja di perusahaan tekstil di Surabaya. Saat bekerja, dia ikut mendirikan koran buruh di Surabaya, namanaya Berita Raya yang kantor pusatnya berada di Jakarta. “Koran buruh Berita Raya ini terbit di Jakarta. Saya perwakilan di Surabaya. Beberapa tahun kemudian, saya pun ditawarkan oleh media di Surabaya untuk jadi wartawannya, dan saya pun bergabung bersama media tesebut,” pungkas Yousri Nur. (red)

 

Related posts

Leave a Comment