Opini 

Tinggal Satu Komunitas Sandur Kalongking yang Masih Bertahan

Oleh: Dr.Indah Khatulistiowati,M.Pd

 

Artikel – Kagum, haru , sedih dan bercampur dengan prihatin. Begitulah gambaran ungkapan perasaan saya ketika menyaksikan pentas kesenian Sandur Kalongking di kawsan pedesaan daerah Tuban – Jawa Timur belum lama ini. Kagum dengan keindahan dan eksotisme kesenian tradisional yang sarat nuansa mistis dan magis itu..

 

Sedangkan sedih, haru dan prihatin karena hanya komunitas Sandur Kalongking Ronggo Budoyo pimpinan Bapak Syakrun itulah yang tetap bertahan melestarikan kesenian itu. membayangkan andai komunitas Sandur kalongking ini tidak sanggup bertahan lagi dalam melestarikannya, entah bagaimana kelanjutan nasibnya.

 

Mungkin kelak Sandur Kalongking hanya menjadi kisah di Tuban yang ditutur tinularkan antar generasi.

 

Untuk bisa menyaksikan pentas Sandur Kalongking ini. Selain karena hanya tinggal satu komunitas Sandur saja yang bertahan, pementasannya juga biasa dilakukan di kawasan pedesaan.

 

Menjumpai pentas Sandur ini di kawasan kota Tuban. Bahkan mereka yang biasanya pentas di alun-alun Kota Tuban setiap bulan Agustus juga sudah lama tidak pernah pentas lagi.

 

Sandur Kalongking biasanya digelar di tanah lapang .Penonton duduk di sekeliling pementasan. yang dibatasi dengan dipasang tali berbentuk bujur sangkar yang bersisi-sisi sekitar 4 meter dan tinggi sekitar 1,5 diberi helai janur kuning sehingga batas itu lebih jelas.

 

Di tengah-tengah sisi sebelah timur dan barat dipancangkan sebatang bambu menjulang ke atas dengan ketinggian sekitar 15 meter. Dari ujung kedua bambu dihubungkan dengan tali yang cukup besar dan kuat. Di tengah-tengah tali diikatkan tali yang menjulur sampai ke tanah tepat ditengah arena.

 

Membentang di atas bambu itu diikatkan beberapa kupat dan lepet bagian dari sesaji. Sedangkan di tengah-tengah atau titik pusat arena ditancapkan gagar mayang ( bendera rontek) , yaitu bendera kertas dengan empat warna yaitu hijau (pengganti warna hitam), kuning, merah dan putih.

 

Pertunjukan biasanya dilakukan pada malam hari dimulai sekitar jam 20.00 berakhir pada 04.00 pagi hari. Pementasan sandur ini biasanya dilakukan sebagi ungkapan rasa syukur atau untuk menunaikan suatu

 

 

 

Penari Sandur terdiri dari empat anak gembala laki-laki yang belum akil balik atau belum dikitan. Empat anak yang menganakan pakaiannya yang khas tersebut menjadi tokoh Balong, Pethak, Tangsli dan Cawik yang menggambarkan para bidadari dan Dewi Sri yang turun dari kahyangan ke bumi. Untuk karakter Cawik digambarkan sebagai tokoh perempuan penjelmaan Dewi Sri, sosok gaib yang dihormati dalam mitos Jawa.

 

Ada 40 pria dewasa yang berperan sebagai pawang ( dukun ), pemain musik dan panjak hore ( penggermbira ). 40 pria itu mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala ( udeng ) yang khas.Mereka senantiasa mengalunkan tembang-tembang Jawa dengan nuansa mantera-mantera sejak awal hingga akhir pertunjukan.Sosok mereka mengingatkan saya pada suku Tengger di yang tinggal di kawasan Gunung Bromo.

 

Utama dimulai setelah selamatan dan pembacaan tandhuk selesai. Adegan pertama yaitu adegan simbolik bancik endog yang disebut sindhiran. Selanjutnya berturut-turut adegan babad alas (buka ladang), ngrakal (membajak), icir (bertanam), besik (menyemai), sambang tegal (menjenguk ladang) atau ngrujaki (memberi rujak), dan unduh-unduh sela-sela tiap adegan diselingi adegan Bancik Endog ( menginjak telur ) Bancik kendi (Menginjak kendi ) , Bancik Dengkul (Menginjak dengkul ) dan Bancik Pundak ( Menginjak Pundak ). Adegan terakhir sebagai penutup yaitu Bandhan yang diteruskan Bandhulan atau Kalongking yang bersifat magis dan akrobatik.

 

Ada salah seorang penari laki-laki jatuh pingsan. Pada saat itu pula para penonton seolah tersentak langsung berdiri dan mendekat kalangan. Penari yang pingsan busana tarinya ditanggalkan dan diikat dengan tali, dimasukkan ke dalam kotak. Setelah beberapa saat dibuka, sang bocah sudah terlepas dari ikatan.. Masih dalam keadaan tak sadar , sang bocah penari dibawa ke tempat tali yang menjulur di tengah arena.

 

Kerasukan roh Kalong itu kemudian naik ke atas dengan memanjat tali. Sampai di atas tali yang membentang, bocah itu kemudian menari-nari menirukan gerakan kalong ( kelelawar berukuran besar ) sambil tiduran diatas tali, kadang menggelantung dengan kepala menjulur ke bawah. Artikel tentang Kerasukan Roh Kalong itu bisa Anda baca di Link berikut ini kesenian yang eksotis dari Bumi Tuban yang semoga mendapat perhatian dari pemerintah dan berbagai pihak agar bisa membantu tetap melestarikan keberadaannya di tengah banyaknya hiburan modern pada saat ini. (in)

Related posts

Leave a Comment