Opini 

Menjadi Asing di Negeri Sendiri: Kekurangmampuan Masyarakat Berbahasa Indonesia

Oleh: Erawati Dwi Lestari

 

Posisi bangsa Indonesia sebagai bagian dari globalisasi dunia memunculkan berbagai dampak, salah satunya adalah penggunaan bahasa asing yang menjadi kian umum dan masuk ke berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Gejala ini dapat terlihat dari maraknya penggunaan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari hingga pertemuan resmi. Papan-papan nama di gedung, baliho, serta berbagai kain rentang di ruang publik nyaris tidak menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia lagi. Kondisi ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia yang notebene merupakan bahasa resmi berdasarkan amanat Sumpah Pemuda 1928, perlahan mulai kurang dimartabatkan di negeri sendiri.

 

Bahasa asing memang penting untuk dikuasai agar kita dapat berperan aktif dan mampu bersaing dalam dunia global seperti saat ini. Namun tidak dapat dipungkiri jika bahasa Indonesia seyogianya mesti diutamakan karena ia merupakan citra persatuan dan bukti kokohnya sebuah negeri. Yudhistira (2016) menyebutkan bahwa selain sebagai alat komunikasi, bahasa Indonesia juga menjadi bukti yang unik dan otentik bagi sebuah jati diri. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia diharapkan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Harapan tersebut tentu akan terwujud jika bahasa Indonesia telah digunakan sebagai alat komunikasi yang sesuai kedudukan dan fungsi. Namun kenyataannya, kondisi saat ini menunjukkan keadaan yang kontradiktif. Peran bahasa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan mulai tergeser bahkan tergusur oleh bahasa asing. Sebagai contoh misalnya, masyarakat lebih sering menggunakan kata supermarket, fashion, laundry, travel, catering, seafood, electronic, restaurant, dan masih banyak lagi. Di dalam pemakaiannya, kata-kata asing ini lebih sering dan jamak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jika ditelusuri, kata-kata ini sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia.

 

Apabila dicermati, setidaknya terdapat beberapa alasan mengapa masyarakat lebih sering menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Sebagian dari mereka mengakui bahwa bahasa asing sengaja digunakan untuk mendapatkan citra positif bagi dirinya. Sebagian masyarakat juga terlihat lebih percaya diri menggunakan kata-kata asing, terutama Inggris, karena dinilai mampu memberi kesan yang lebih bagus, lebih berkualitas, lebih bergengsi, lebih berkelas, dan sebagainya. Kata ‘tour and travel’ misalnya, dianggap lebih memiliki nuansa dan makna seperti yang disebutkan di atas daripada kata ‘wisata dan perjalanan’ yang cenderung dianggap kurang menarik dan tidak bergengsi.

 

Kesan atau citra yang dianggap posisif tidak hanya berkenaan dengan penggunaan kata-kata asing, namun juga berkenaan dengan struktur bahasa asing yang sebenarnya menggunakan kosakata bahasa Indonesia. ‘Indah Salon’ misalnya, merupakan struktur bahasa asing karena disusun berdasarkan hukum menerangkan-diterangkan. ‘Indah’ dalam frasa di atas adalah unsur menerangkan, sedangkan ‘Salon’ merupakan unsur yang diterangkan. Padahal di dalam bahasa Indonesia, struktur yang lazim digunakan adalah mengikuti hukum diterangkan-menerangkan. Yang menjadi persoalan adalah perubahan struktur dari ‘menerangkan-diterangkan’ menjadi ‘diterangkan-menerangkan’ dinilai dapat mengurangi atau menghilangkan kesan dan citra positif seperti disebutkan di atas.

 

Salah satu permasalahan yang sering pula dialami oleh bangsa ini adalah adanya serangan penggunaan berbagai istilah asing dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dirasakan jika istilah asing terkadang terasa lebih dekat dengan telinga daripada istilah dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata ‘snack’ misalnya. Kata asing ini lebih sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari daripada arti sebenarnya. Kita bahkan mungkin tidak pernah menyadari bahwa kata tersebut merupakan istilah asing. Padahal di dalam kosakata bahasa Indonesia, kata ‘snack’ sendiri dapat dimaknai sebagai kudapan, makanan ringan, atau kue kecil. Penggunaan kata asing dalam kehidupan sehari-hari oleh berbagai kalangan ini tentu amat meresahkan keutuhan bahasa Indonesia itu sendiri.

 

Penggunaan istilah-istilah asing yang dicampur dengan bahasa Indonesia diperparah dengan penerapan yang tidak hanya dilakukan oleh masyarakat umum, namun juga dipraktikkan oleh badan usaha pun jajaran pemerintah. Penamaan gedung, pusat jajan, pusat kuliner, kluster kondominium, perhotelan, dan perkantoran penuh-sumpek dengan nama dalam bahasa asing (Gufran, 2016). Sebagai contoh misalnya, penggunaan istilah Jakarta Outer Ring Road (JORR), Jakarta Convention Center, Transjakarta Busway, Makassar Trade Center, dan lain sebagainya. Padahal, ada beberapa penggunaan nama yang digunakan oleh badan usaha atau pemerintahan sepeti Gedung Sarinah, Perumahan Taman Griya Nusa Dua, Permata Cimanggis, atau Hotel Sekar Kedaton, yang masih mempertahankan penyebutan dalam bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing dalam berbagai penyebutan diduga dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang datang ke Indonesia. Padahal, kedatangan para wisatawan asing ke Indonesia tidak lain dengan maksud ingin melihat perbedaan budaya dan keunikan Indonesia yang mungkin tidak dapat ditemukan di negara asalnya. Namun jika masyarakat kita tetap menggunakan istilah-istilah asing dalam kehidupan sehari-hari, maka di manakah letak keunikan yang dicari oleh para wisatawan asing tersebut? Tidak menutup kemungkinan jika para wisatawan asing akan merasa kecewa dengan ‘nuansa’ yang ternyata sama saja dengan negara asal mereka.

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, istilah dalam bahasa asing kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam percakapan lisan maupun tulis. Hal ini dilakukan secara terus-menerus hingga kita sebagai penutur pun kadangkala lupa bahwa sedang menggunakan bahasa asing. Sebagai contoh, saat membeli barang di toko dalam jaringan atau yang sering disebut ‘belanja online’, kerap ditemui istilah asing seperti order, order form shipping, atau pre-order yang masing-masing sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, yakni pemesanan, formulir pemesanan, atau pemesanan awal. Namun sayangnya, padanan kata dalam bahasa Indonesia tersebut hampir tidak pernah digunakan dalam proses jual beli dalam jaringan. Hal ini dikarenakan masyarakat terlanjur terbiasa dengan bahasa asing dan malas mencari padanan kata yang dapat digunakan untuk mengganti penggunaan dalam bahasa asing tersebut. Masyarakat juga terlampau nyaman dengan bahasa asing yang ada sehingga akhirnya malas memakai dan merekacipta bahasa asli mereka, bahasa Indonesia (P. Ari, 2016).

 

Menanggapi berbagai polemik dalam penggunaan bahasa Indonesia ini, kemudian muncul beberapa pertanyaan yang bisa diajukan dalam pikiran kritis. Mengapa banyak orang Indonesia memilih menggunakan istilah asing yang sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa kita sendiri? Apakah penggunaan bahasa Indonesia telah luntur? Apakah jadi tidak ‘keren’ atau tidak ‘intelek’ jika menggunakan bahasa Indonesia di dalam kehidupan sehari-hari? Perkembangan di era globalisasi tidak dapat dipungkiri sangat memengaruhi penolakan masyarakat terhadap penggunaan atau hadirnya bahasa Indonesia. Kemunculan bahasa alay di tengah masyarakat yang melek teknologi seperti ‘kepo’ yang memiliki makna ingin tahu mengenai sesuatu, ‘woles’ yang bermakna santai, atau kata ‘baper’ sebagai singkatan dari bawa perasaan, menambah deretan kekhawatiran akan semakin pudarnya bahasa Indonesia.

 

Sudah selayaknya kita sebagai masyarakat Indonesia mulai membiasakan dari untuk tidak menggunakan istilah asing dan setia dengan bahasa Indonesia. Meskipun penggunaan istilah asing memiliki dampak positif dalam mempermudah komunikasi, namun alangkah lebih baiknya jika kita mampu menempatkan peggunaan bahasa asing atau bahasa Indonesia dengan benar, sesuai tempat dan porsinya. Jika bukan bukan kita yang mempertahankan keutuhan bahasa Indonesia, maka siapa lagi yang akan melakukannya?

 

Daftar Referensi

Gufran A. Ibrahim. (2016, 29 Oktober). Menduakan bahasa sendiri. Kompas, h.6.

Ari Subagyo. (2016, 24 Oktober). Liarnya bahasa Indonesia. Kompas, h.6.

Yudistira A. N. M. Massardi. (2016, 28 Oktober). Bahasa menunjukkan apa?. Kompas, h.6.

 

Penulis merupakan mahasiswi program studi S2 Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Pernah menempuh pendidikan S1 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan mengambil jurusan Sastra Indonesia.

Related posts

Leave a Comment