Jendela 

Pemilih Yang Cerdas Menghasilkan Pemimpin Yang Berkualitas

SURABAYA – Jum’at 22 Desember 2017 bertempat di Pendopo Kampung Seni THR jalan Kusuma Bangsa. Tiga Lembaga mengadakan Presconf diantaranya FPII Setwil Jatim, LKPK Jatim dan ABS.

Serta di hadiri wartawan dari berbagai media serta elemen masyarakat Jawa Timur. Hadir dalam Presconf Ketua FPII Setwil Jatim, Ketua Korwil Surabaya, Ketua LKPK, Serta ABS beserta jajaran pengurus. Dalam sambutanya Ketua LKPK (Lembaga Komunitas Pengawas Korupsi) Lesmana menyampaikan terkait Pemilihan Gubernur Jawa Timur, LKPK mengawasi APBD, APBN, KPU atau Kebijakan Publik serta calon kepala daerah. LKPK Bermitra dengan KPK, TNI, POLRI, KEJAKSAAN dan BNN. FPII Setwil Jatim, LKPK Jatim serta ABS akan mengadakan program “Fit and Proper Test” kepada para Calon Gubernur.

Pemilihan Gubernur merupakan program pemerintah setiap lima tahun sekali dilaksanakan di seluruh wilayah. Pilgub merupakan implementasi dari salah satu ciri demokrasi dimana rakyat secara langsung dilibatkan, diikutsertakan didalam menentukan arah dan kebijakan politik. Selain hal itu masing-masing daerah juga dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah Bupati/Walikota dan Wakilnya yang langsung dipilih oleh rakyatnya juga. Penyelenggaraan pemilu yang selama ini terkesan kaku, dengan segala kompleksitas persoalan yang mengiringinya, bagi beberapa kalangan, tentu mendatangkan kejenuhan. Intrik politik yang dibarengi kecurangan dengan menghalalkan berbagai cara, bisa memunculkan sikap apatisme pada proses pemilu itu sendiri. Dalam konteks ini, membayangkan sebuah pemilu yang bisa menghibur dan membuat semua orang menjadi senang, bukan sekadar pemilihan (election), namun menjadi sebuah pesta demokrasi yang menghibur (electainment) menjadi tantangan tersendiri.

Mengutip petikan wawancara Ketua FPII Jatim, Ketua LKPK Jatim dan ABS ketika berbincang dengan tentang harapannya bahwa pemilu itu bukan hanya intrik politik, adu strategi antar kandidat untuk menjadi pemenang. Tapi harusnya juga bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, sebagai sebuah pesta demokrasi, sebagai hiburan. Jangan lagi ada kekerasan, yang ada adalah kegembiraan. Jika penyelenggaraan pemilu dapat terlaksana seperti apa yang dibayangkannya, tingkat partisipasi masyarakat juga pasti akan tinggi. Hal ini kemudian menjadi target bagi KETIGA LEMBAGA peMANTAU Pemilu yang bersifat nasional, tetap dan mandiri sebagaimana amanat dari Undang – Undang NKRI tersebut. Dengan keyakinan itu pula, memprediksi pada Pilgub 2018 nanti, tingkat partisipasi masyarakat diharapkan bisa mencapai minimal 75 persen. Angka peningkatan partisipasi masyarakat dapat terwujud  secara kuantitas maupun kualitas.

Untuk mencapai target tersebut,akan menggagas program-program DAN AJAKAN masyarakat, UNTUK MEMILIH DENGAN CERDAS DAN DAPAT MENGHASILKAN PEMIMPIN YG BERKUALITAS BAGI JATIM. Dan tidak menutup kemungkinan dilaksanakan kegiatan lain, misalnya mengadakan event-event PENYULUHAN WARGA JATIM UNTUK TIDAK GOLPUT DI BERBAGAI WILAYAH  atau apa saja. Intinya kegiatan yang bisa menggiring persepsi dan pemahaman semua orang bahwa pemilu itu sesuatu yang menghibur bagi masyarakat. Semua pihak yang memiliki kepentingan dengan pemilu, harus turut memainkan perannya masing-masing dengan elegan dan cara-cara yang halus.

Di lain pihak, kekuasaan pemerintahan yang ada saat ini tidak terlepas dari perjalanan politik di masa lalu. Hadirnya penguasa ataupun para oposisi tidak serta merta muncul tanpa proses politik.

Mereka muncul setelah melalui proses panjang sejarah yang dilaluinya lewat political struggle (pertarungan politik), ideology diffuses (pembauran ideologi), international conspiracy (konspirasi internasional), serta aksi-aksi politik lainnya. Hingga akhirnya seperti layaknya hukum barbar, siapa yang kuat maka merekalah yang bertahan. Gambaran dan peta perpolitikan di Indonesia saat ini tidak lepas dari peran dan fungsinya”, pungkasnya. (kkh)

 

Related posts

Leave a Comment