HUKRIM 

Warga Beransumsi Bahwa Tanah “Eigendom”

NGANJUK – Sebuah masalah jika menyangkut tanah adalah rawan sekali apalagi bilamana bentuk tanah tersebut merupakan tanah eigendom mesti peninggalan Belanda umumnya, Eigendom atau bisa dibilang tanah tak bertuan adalah sudah tak ada pemiliknya. Namun kadangkala desa sendiri ceroboh untuk berminat memilikinya dengan dalih untuk diambil asetnya, hal yang terbiasa dilakukan sekarang. Akan tetapi apabila ditanya sejak kapan penyerahan dari pihak Belanda kedesa jelas – jelas tidak ada, entah dalam bentuk beli ataukah ganti rugi disini perlu diyakini bahwa hal sedemikian ini tak mungkin memiliki bukti. Desapun hanya mendata bahwa itu berada diwilayah desa tersebut, karena yang sering terjadi pemahaman disini bahwa diakukan Kas desa ini dimasukan kategori tanah sitisoro yang dalam konteknya bagwa tanah yang dikatakan kas desa tersebut sudah diakui desa maka para warga bertanya  segera logika sejak kapan belanda menyerahkan tanah tersebut kepada desa ? atau bukti apakah yang dimiliki oleh desa jika tanah itu adalah kepunyaan desa ? bilamana hal tersebut desa tak memiliki bukti penyerahan yang kuat maka desa dimungkinkan akan menunai masalah dengan warga yang tak pernah usai.

Didusun Kandangan, Desa Kedungrejo, Kec. Tanjunganom ada tanah Eigendom seluas  +6 Hektar ditempati warga kurang lebihnya sekitar 115 Bidang tanah konon sekarang berubah menjadi kas desa bukti yang ada ditangan warga pada tahun 1996 hanya tanda bukti sumbangan PBB tanah desa Kedungrejo senilai Rp. 2.850 pada saat  itu dan satu lampir lagi berbunyi Sumbangan Pembangunan Desa (Natura) tahun anggaran 1996/1997 sebesar Rp. 285   10 % dari baku PBB bunyinya lalu ditahun 2007 muncul SPPT berbunyi kas desa senilai Rp. 2.302 sedangkan lampiran yang terlampir berbunyi Sumbangan PBB tahun  2007 tanah kas desa kedungrejo sebesar Rp. 5.750 setelah itu pada tahun berikutnya tidak disertai lampiran kertas putih itu lagi melainkan hanya SPPT melalui karena diprotes BPD pada waktu itu.

Tanah Dusun Kandangan menurut cerita orang – orang tua bahwa tanah tersebut peninggalan penjajah, para nenek moyang dulu bertempat menempati semenjak pabrik masih giling/masih aktif berproduksi. Pabrik gula tersebut milik Lie Jien Chew (Orang Tiongha) sebelum tahun 30an (1930) karena Lie Jien Chew bangkrut dan meninggalkan begitu saja akhirnya tanah tersebut ditempati bahkan ada dengan cara beli dan warga berkembang turun temurun sampai sekarang. Menurut kajian teknis bahwa tanah yang ditempati warga Kandangan adlah Eigondom yang mengandung arti bahwa tanah itu bisa untuk bersertifiat akan tetapi dalam kenyataan hingga sampai sekarag masih berkatung-katung karena pihak desa bersikokoh bahwa itu adalah tanah kas desa. Oleh sebab itu kita tunggu perkembangan berikutnya apakah pihak pemerintah desa tetap bersikokoh dengan keinginan mengambil kebijakannya sendiri ataukah berpihak kepada Masyarakat ? artinya meringankan beban dan memperjuangkan masyarakat ? kita tunggu saja perkembangannya, kata sumber.   (TUT)

Related posts

Leave a Comment