Sosbud 

“Tatengghun” ingin Buktikan Teater milik Semua Elemen Masyarakat

Sumenep – “Tatengghun”, teater antropologi hasil karya Anwari yang sekaligus sutradara, ingin menunjukkan sekaligus membuktikan teater itu milik semua elemen masyarakat.

 

“Saya ingin menghilangkan sekat atau batas yang selama ini ada, seolah-olah teater itu milik orang-orang kampus dan orang-orang kota. Melalui ‘Tatengghun’, saya ingin menghilangkan sekat-sekat itu, batas-batas itu,” katanya di Sumenep, Jawa Timur, Minggu (23/7) malam.

 

Pada Minggu malam, Anwari mementaskan salah satu karyanya itu kawasan rumahnya di Singkong Art Space, Dusun Balowar, Desa Nyapar, Kecamatan Dasuk.

 

“Tatengghun” (Madura) yang berarti pertunjukan itu berdurasi sekitar 60 menit dan melibatkan pelaku teater dari sejumlah daerah sebagai pemain, di antaranya Swandayani Teja (Surabaya), Bahauddin (Malang), dan Putra Yuda (Jember).

 

Teater antropologi yang dipentaskan di ruang terbuka, halaman dan bagian rumah Anwari itu juga melibatkan keluarga dekat sang sutradara sebagai pemain, di antaranya Satun (ibu) dan Sumina (nenek).

 

“Melalui ‘Tatengghun’, saya memang menggabungkan kekayaan lokal Madura, baik berupa objek bendawi maupun nonbendawi,” kata Anwari, menerangkan.

 

“Tatengghun” mengolaborasikan Redy Eko Prasyto, penata musik teater tersebut asal Malang dengan pelestari sekaligus pembaca “mamaca” (tembang Madura), Pusa’ie dan kelompok musik “saronen”, Irama Putra, semuanya berasal dari Sumenep.

 

Teater antropologi itu juga memunculkan sapi, kandang sapi, dan peralatan membajak sawah, beberapa hal lumrah dalam kehidupan desa di Madura yang dilalui Anwari pada masa kecil hingga sekarang di Dusun Balowar, Desa Nyapar.

 

“Pesan yang ingin saya sampaikan dalam pementasan ‘Tatengghun’ itu adalah teater milik semua elemen masyarakat, termasuk orang desa, dan jangan malu jadi orang desa. ‘Tatengghun’ adalah buktinya,” ujarnya, menegaskan.

 

Anwari yang lahir dan besar di Dusun Balowar, Desa Nyapar, Kecamatan Dasuk itu merupakan alumnus MAN 1 Sumenep dan Jurusan Sendratari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

 

Saat ini, pendiri Kamateater Art Space di Singosari, Malang, dan Padepokan Seni Madura di Dasuk, Sumenep itu merupakan salah seorang dari 13 seniman Indonesia yang tergabung dalam Suzuki Company of Toga (SCOT), salah satu jaringan teater profesional di Jepang. (*)

Related posts

Leave a Comment