Nusantarta 

Kapolri Beberkan Perjalanan Penyelidikan Kasus Beras PT IBU

Jakarta – Kapolri Jenderal Tito Karnavian membeberkan proses penyelidikan kasus PT Indo Beras Unggul (IBU). Menurutnya dugaan pelanggaran muncul setelah Satgas Pangan yang diawaki Polri, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri dan KPPU, melakukan penyelidikan selama satu bulan.

 

“Jadi (penggrebekan gudang PT IBU) itu adalah hasil penyelidikan selama satu bulan. Ada dugaan, dugaan saya bilang, persaingan curang. Ada dugaan, ada undang-undangnya itu 382 BIS, KUHP, ada dugaan pelanggaran tentang persaingan usaha,” kata Tito di Gedung Rupatama, Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (25/7/2017).

 

Setelah dugaan persaingan curang muncul, sambung Tito, kemudian dugaan pelanggaran lain PT IBU, yaitu kualitas beras tidak sesuai dengan yang tertera di kemasan muncul. Satgas menduga ada juga pelanggaran UU Perlindungan Konsumen.

 

“Kemudian ada juga dugaan nilai barang yang tidak sesuai dengan labelnya. Artinya undang-undangnya (Perlindungan) Konsumen. Berdasarkan hasil sebulan itu maka kami melakukan langkah-langkah pemeriksaan,” ujar Tito.

 

Dia mengatakan penindakan terhadap PT IBU merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Joko widodo dalam rapat terbatas kabinet sebelum Bulan Ramadan tiba. Tito mengulas balik, Presiden menginstruksikan agar stabilitas harga terjaga, di mana masyarakat tak dibebankan dengan kultur harga sembako naik jelang Lebaran.

 

“Ini bermula dari sebelum, jauh sebelum Ramadan, Bapak Presiden dalam ratas kabinet memerintahkan dan menginginkan agar ada stabilitas harga. Dalam stabilitas harga ini supaya tidak memberatkan masyarakat. Kalau terjadi kenaikan harga, inflasi, memberatkan masyarakat, memberatkan juga Pemerintah yang harus memberikan subsidi,” ucap Tito.

 

Satgas Pangan, sambung Tito, lalu menilik ada 3 pelakon komoditas pangan. Salah satunya petani sebagai produsen. Mengilas balik pesan Presiden, ujar Tito, petani harus ditingkatkan kesejahteraannya. Petani tidak boleh diabaikan atau dianggap masyarakat tingkat bawah. Tito melanjutkan, Presiden juga berpesan agar pedagang tidak merugi dalam rangka stabilitas harga ini.

 

“Kami melihat bahwa komoditas-komoditas pangan ini melibatkan paling tidak ada 3 player. Produsen, distributor atau pedagang, dan konsumen. Nah Presiden menginginkan agar para produsen, petani khususnya, mereka betul-betul naik kesejahteraannya. Kerja keras mereka berbulan-bulan itu betul-betul bisa mengangkat derajat kesejahterannya,” jelas Tito.

 

“Jangan seolah-olah petani itu menjadi second class citizen, low class. Pedagang, Presiden juga mengharapkan mereka juga mendapat untung. Tapi, jangan sampai untung terlalu besar yang memberatkan konsumen,” sambung Tito.

 

Tito mengutarakan tujuan Satgas Pangan yang mengemban tugas menstabilisasi harga bagus, agar 3 pelakon komoditas sembako merasa tenang dan tidak diteror kenaikan harga. Upaya Satgas Pangan ternyata membuahkan hasil dengan stabilnya harga sembako saat momen Bulan Ramadan kemarin.

 

“Tujuannya bagus, membantu petani, membantu masyarakat, sekaligus memberikan peluang kepada para pedagang supaya mereka mendapat untung tapi jangan sampai untungnya berlebihan kemudian di atas kesulitan para konsumen. Apalagi para produsen yang kerja keras. Nah untuk itulah dalam operasi Ramadniya yang lalu, salah satu target kami adalah stabilitas harga pangan,” terang Tito.

 

“Ternyata dengan upaya perbaikan sistem maupun penegakan hukum, alhamdulillah, kita sendiri lihat terjadi stabilitasi harga ya,” sambung dia.

 

Kembali ke masalah PT IBU, Satgas Pangan yang dipimpin Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, memang menyasar ‘pemain’ besar dalam hal kecurangan distribusi pangan. Kemudian tim satgas menemukan adanya dugaan tindak pelanggaran saat menelisik PT IBU.

 

“Sehingga kemarin karena ini tempatnya besar, saya dengan Menteri Pertanian, Ketua KPPU langsung ke sana (gudang PT IBU) dan memberikan keterangan adanya dugaan. Tujuannya apa? Yang paling utama kami juga ingin menyampaikan kepada publik bahwa kami sangat serius menangani permasalahan beras,” tutur Tito.

 

Tito mengatakan, mafia-mafia besar itu ada dan sebelumnya sudah diingatkan Tito melalui pernyataan di media, bahwa Satgas Pangan akan menyasar para mafia beras.

 

“Nah setelah kami melakukan sidak ke sana, kalau nanti ada yang berpendapat ini tidak ada pelanggaran hukum, nggak apa-apa, silakan untuk menyampaikan pendapatnya,” tandas Tito.

 

Tito mengakui sudah memerintahkan Satgas Pangan untuk menyelidiki lebih dalam terkait ada-tidaknya pelanggaran hukum yang dilakukan PT IBU. Jika ada, tegas Tito, maka perusahaan harus ditindak melalui penegakan hukum. Jika ternyata tak ada pelanggaran, satgas harus mengklarifikasi dugaan tersebut tidak benar.

 

“Oleh karena itu, saya juga memerintahkan kepada Satgas untuk koordinasi terus internal (satgas) dengan Kementan, KPPU, Kemendag, Balai POM, Puslabfor, semuanya untuk lihat apakah betul ada pelanggaran,” pungkas Tito.

 

“Kalau ada pelanggaran, jangan ragu-ragu ditindak. Tapi kalau tidak ada pelanggaran, juga lakukan klarifikasi,” tutup dia.

(aud/rvk)

Related posts

Leave a Comment